Berbicara tentang rokok elektrik (vape), pasti tidak jauh dari komponen penting bernama coil vape. Bagian kecil ini, berbentuk lilitan kawat yang memegang peranan penting dalam menentukan kualitas rasa, dan ketebalan uap vape.
Bagi para pemula maupun vapers berpengalaman, memahami fungsi dari coil vape adalah hal yang wajib mereka pahami. Karena, setiap material kawat dan jenis lilitan memiliki karakter dan fungsi yang berbeda.
Sehingga, pemahaman tentang coil menjadi sangat penting agar pengalaman vaping menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan mereka sehari-hari.
Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih lanjut tentang apa itu coil vape, jenis, bahan, hingga harganya. Yuk, simak artikel ini hingga tuntas!
Apa itu Coil Vape?
Coil vape adalah salah satu komponen utama dalam vape yang berbentuk lilitan kawat kecil. Berfungsi sebagai penghantar panas, material coil memiliki hambatan listrik. Hambatan inilah yang membuat kawat panas dalam waktu singkat.
Coil akan terpasang dan melilit wick berupa kapas atau sumbu yang menyerap liquid. Dalam sistem kerjanya, coil bertindak sebagai jembatan, dan mengalirkan daya dari baterai menuju atomizer untuk mengubah liquid menjadi uap.
Komponen ini seperti mesin dalam kendaraan, sebab resistensi dan jenis coil mempengaruhi rasa dan kepulan yang keluar. Oleh sebab itu, seluruh sistem vape tidak akan berjalan jika coil rusak atau tidak berfungsi.
Jenis-Jenis Coil Vape
Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa coil terdiri dari beberapa jenis, yang masing-masing memiliki karakter dan fungsi yang berbeda. Untuk menjaga performa device vape, kamu juga perlu mengetahui jenis-jenisnya.
Berdasarkan Bahan Kawat
Berikut ini adalah jenis coil vape, berdasarkan bahan yang bisa jadi pertimbangan sebelum membeli coil:
Kanthal A1

Penggunaan coil dengan bahan kanthal menjadi salah satu yang populer dan yang paling umum. Terbuat dari campuran besi, kromium, dan aluminum feritik. Terkenal sebagai bahan coil vape terbaik karena kualitasnya.
Bahan kawat ini mampu bertahan pada suhu tinggi hingga melampaui batas. Sehingga, bisa menghasilkan suhu tinggi. Harganya cukup terjangkau di pasaran. Cocok buat kamu yang menggunakan wattage mode standar.
Namun, bahannya yang cukup tebal membuat kawat ini memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk menghantarkan panas. Kanthal juga menghasilkan rasa yang yang cenderung netral.
Nichrome (Ni80)

Nichrome terbuat dari jenis bahan nikel dan kromium (80% nikel dan 20% kromium). Penggunaan jenis bahan ini juga cukup banyak karena memiliki respons pemanasan yang cepat. Kawat ini bisa menerima suhu panas maksimal 1150 derajat celcius.
Saat menekan tombol firing, coil nichrome bisa langsung menghasilkan uap secara instan. Bahan Nichrome mampu menghasilkan rasa liquid yang lebih detail karena menghantarkan panas yang cepat. Sehingga, pengguna harus berhati-hati saat melakukan dry burn.
Selain itu, berhati-hatilah saat menggunakan bahan ini, karena bagi yang memiliki alergi dapat menimbulkan iritasi kulit.
Stainless Steel (SS316L)

Jenis kawat ini terbuat dari material stainless steel (coil SS). material dengan satu-satunya bahan kawat bersifat hibrida. Maksimal ketahanan panas terhadap kawat ini adalah 400 derajat celcius.
Bahan satu ini kompatibel dengan berbagai mode di mod vape. Serta mampu menghasilkan flavour liquid yang bersih dan konsisten. Bahan ini cenderung lebih lentur daripada kanthal.
Sehingga, membutuhkan ketelitian ekstra saat memasang kapas dan mengatur posisinya.
Nickel (Ni200)

Terbuat dari bahan nikel murni dan memiliki ketahanan terhadap panas maksimal 400 derajat celcius. Karena karakteristik tersebut, penggunaan Ni200 umumnya pada perangkat vape yang telah mendukung fitur Temperature Control (TC).
Meskipun menawarkan performa yang baik, nikel memiliki tekstur yang lunak. Sehingga mudah berubah bentuk apabila penggunaannya kurang tepat. Oleh sebab itu, coil berbahan nickel baiknya untuk pengguna yang sudah berpengalaman.
Pemakaian bahan coil ini cocok bagi pengguna yang mengutamakan konsistensi rasa. Selain itu, mampu mengurangi risiko dry hit karena suhunya terbatas.
Titanium (Ti)

Titanium adalah kawat yang terbuat dari logam titanium murni, material khusus untuk mode temperature control. Sehingga berisiko jika menggunakannya pada mode watt biasa.
Bahan ini memiliki kontrol suhu yang baik, karena dapat memberikan proteksi terbaik supaya kapas tidak gosong. Selain itu, Titanium mampu menghasilkan rasa liquid yang konsisten dan stabil.
Tetapi, jika dipanaskan secara berlebihan dapat melepaskan zat beracun berupa Titanium Dioksida yang berbahaya jika terhirup.
Di Indonesia, bahan coil Titanium cukup jarang di pasaran karena tidak banyak yang menjual.
Berdasarkan Bentuk Rakitan
Jenis coil vape memiliki beberapa kategori yang berbeda tergantung bentuk rakitannya, antara lain:
- Coil Alien
Coil ini merupakan salah satu jenis coil handmade yang memiliki tingkat kerumitan tinggi. Terbuat dari beberapa inti kawat yang terbungkus dengan kawat luar, bentuknya bergelombang menyerupai pola “alien”. Desain ini memberikan luas permukaan yang lebih besar, sehingga proses penguapan liquid menjadi lebih optimal. Mampu menghasilkan flavour yang sangat kaya dan produksi uap yang tebal. - Coil Clapton
Menjadi pelopor coil dengan lilitan yang cukup kompleks. Mirip dengan senar gitar, satu kawat ini berukuran lebih besar dililit oleh kawat luar yang ukurannya lebih kecil. Karakter dari coil ini mampu menghasilkan rasa yang cukup tebal. Struktur ini membuat permukaan coil lebih luas, sehingga mampu menyerap lebih banyak liquid. Mampu memproduksi uap yang lebih banyak daripada coil standar, dan mudah ditemukan dalam berbagai ukuran. - Coil Fused
Bahan rakitan ini menggunakan dua atau lebih kawat inti yang dipasang sejajar untuk meningkatkan luas permukaan pemanasan. Jenis ini mampu menghasilkan distribusi panas yang lebih merata. Coil Fuse sering dijadikan dasar sebelum dikembangkan menjadi berbagai jenis coil lain, seperti Fused Clapton. - Coil Fused Clapton
Rakitan satu ini merupakan pengembangan dari clapton coil perbedaannya terletak pada jumlah kawa inti yang digunakan. Dua atau lebih kawat sejajar yang kemudian dibungkus dengan kawat berukuran kecil. Desain ini menghasilkan permukaan panas yang lebih luas, sehingga performanya meningkat. Produksi uap lebih tebal daripada clapton biasa dan menawarkan rasa yang lebih optimal.
Harga Coil Vape
Harga coil vape di pasaran sangat bervariasi, tergantung pada jenis coil, material, merek, serta kompatibilitas perangkat yang digunakan. Semakin kompleks desain dan berkualitas materialnya, harga coil juga akan semakin tinggi.
Namun, umumnya harga coil berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp150.000. Sebelum membeli pastikan kamu telah mengetahui fungsi dari masing-masing jenisnya. Karena harga coil yang mahal belum tentu cocok dengan gaya vaping kamu.
Untuk mendapatkan performa terbaik dan umur pakai yang lama, sebaiknya pilih coil yang sesuai dengan spesifikasi perangkat yang digunakan dan kebutuhan vaping kamu.
Baca juga: Cara Agar Cartridge Awet: Penyebab Rusak & Tips Merawatnya
Penutup
Memilih jenis coil vape, sama pentingnya dengan menentukan kenyamanan saat vaping. Pasalnya, komponen ini memiliki peran yang penting dalam menghasilkan kualitas rasa yang optimal dan mempengaruhi jumlah uap yang dihasilkan..
Selain itu coil vape, memiliki material dan bentuk rakitan yang berbeda. Perbedaan tersebut mempengaruhi performa, daya tahan, kebutuhan daya, hingga pengalaman vaping secara keseluruhan.
Jadi, pastikan kamu memahami karakteristik masing-masing coil sebelum membeli. Agar sesuai dengan perangkat dan gaya vaping yang kamu gunakan.
Semoga artikel ini membantu kamu menemukan jenis coil vape yang paling sesuai. Jika informasi ini bermanfaat, jangan ragu untuk membagikannya kepada sesama vapers!


